BerandaDeep ReportUsulan Tempe Jadi Warisan Budaya; Ironi di Tengah Kuasa Impor dan Tren...

Usulan Tempe Jadi Warisan Budaya; Ironi di Tengah Kuasa Impor dan Tren Kenaikan Harga Kedelai

Published on

Ketergantungan terhadap impor kedelai menjadi satu dari sekian ironi yang menimpa bangsa Indonesia. Sumber protein masyarakat yang berada di urutan ke-4 ini ternyata harus dipenuhi secara impor dengan jumlah sebesar 92%. Semakin miris tatkala pemerintah malah bersemangat mengajukan tempe sebagai warisan budaya tak benda UNESCO.

Memang kebutuhan dalam negeri atas tahu-tempe lebih tinggi dari konsumsi protenin lain seperti daging ayam. Tetapi dikala para perajin tempe kewalahan menghadapi harga kedelai yang terus naik hingga 13% apakah sepantasnya kita berbangga diri? Realisasi swasembada kedelai adalah target yang sepantasnya dikejar oleh para pemangku kepentingan.

Kebutuhan Kedelai Nasional

Indonesia merupakan salah satu negara pengimpor kedelai terbesar di dunia. Setiap tahunnya jumlah kedelai yang diangkut ke dalam negeri rata-rata di atas 1 juta ton dari total kebutuhan rata-rata di atas 2 juta ton. Dari total tersebut, sekitar 88% dialokasikan untuk bahan baku pembuatan tempe dan tahu, 10% untuk pangan olahan lain seperti industri tepung dan pati serta sebanyak 2% untuk benih.

Kementerian Pertanian mencatat kebutuhan kedelai nasional pada tahun 2021 mencapai 2,8 juta ton dengan rincian 13,6 ribu ton dikonsumsi langsung, 7 ribu ton dijadikan benih, dan 2,7 juta ton untuk kebutuhan industri mikro kecil.

Artinya, lebih dari 90% kedelai di Indonesia dikonsumsi dan digunakan sebagai bahan pangan dengan rata-rata konsumsi langsung rumah tangga mencapai 0.05 kg/kapita/tahun dan kebutuhan industri mikro kecil 10.21/kg/kapita/tahun.

Produksi Kedelai Lokal Menyusut, Impor Ambil Alih Porsi Hingga 90 persen

Kebutuhan kedelai nasional yang mencapai 2,8 juta ton per tahun tersebut sayangnya tidak bisa diimbangi dengan produksi kedelai dalam negeri. Untuk tahun 2021, petani kedelai nasional hanya menyumbang 211 ribu ton atau berkontribusi sebesar 7 persen untuk kecukupan kebutuhan domestik. Inilah yang memaksa pemerintah terus mengimpor bahan baku tahu tempe hingga saat ini.

Merujuk catatan Badan Pusat Statistik (BPS), impor kedelai dari tahun ke tahun menunjukkan tren kenaikan. Apabila pada 2010 impor mengambil porsi 65 persen dari total kebutuhan domestik, pada tahun 2021 porsi impor melebar mencapai 92 persen. Artinya, produksi dalam negeri terus menyusut signifikan dengan kontribusi pada 2010 sebesar 34 persen, kini kurang dari 10 persen.

Volume impor kedelai pada 2021 mencapai 2,49 juta ton atau naik 0,58% dibandingkan 2020 yang tercatat sebanyak 2,47 juta ton. Amerika Serikat masih konsisten sebagai pemasok utama kedelai impor dengan volume impor 2,15 juta ton. Dengan kata lain, AS menyokong sekitar 87% porsi impor kedelai pada 2021 atau berkontribusi sebesar 76% untuk memenuhi kebutuhan kedelai Indonesia.

Padahal, jika menilik data produksi kedelai selama 3 dekade ke belakang, Indonesia pernah berhasil swasembada kedelai dengan capaian hingga 1,7 juta ton pada tahun 1993. Penyusutan produksi terlihat signifikan terutama sejak tahun 2000 di mana capaian produksi kedelai terus menurun di bawah angka 1 juta ton per tahun dengan penurunan paling tajam pada tahun 2021, yaitu mencapai 200 ribu ton.

Usulan Tempe Jadi Warisan Budaya UNESCO

Memang terdengar ironis kala negara Indonesia tak mampu memproduksi kedelai sendiri akan tetapi menjadi produsen tempe terbesar di dunia serta pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50 persen dari konsumsi kedelai Indonesia dalam bentuk tempe, 40 persen menjadi tahu, dan 10 persen dalam bentuk produk lain, seperti tauco, kecap, dan lain- lain.

Pertumbuhan konsumsi tahu-tempe di Indonesia mengalami tren positif dalam beberapa waktu terakhir. Saat ini, rata-rata konsumsi tempe di Indonesia diperkirakan mencapai 7,6 kg perkapita pertahun. Sementara tahu lebih tinggi mencapai 8,2 kg.

Tahu dan tempe ke dalam masuk dalam Top 5 bahan makanan sumber protein yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia mengalahkan daging ayam.

Tidak heran apabila pemerintah terus bersemangat mengupayakan tempe sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO.

Putaran Persoalan; Kenaikan Harga, Mogok Produksi Tempe, Hingga Gangguan Suplai

Wacana tempe jadi warisan budaya tak benda merupakan satu dari sekian isu tentang topik kedelai di media selama setahun terakhir. Sisanya adalah permasalahan harga kedelai yang tak kunjung stabil. Mengamati entitas komplain, Netray menemukan sejumlah permasalahan klasik soal kedelai selama pemantauan 1 Januari 2021 hingga 28 Februari 2022.

Kenaikan harga kedelai, mogok produksi, kelangkaan, kerugian, fluktuasi harga, hingga gangguan suplai menjadi masalah yang paling banyak disuarakan media berkaitan dengan topik kedelai di media pemberitaan.

Upaya positif menaikkan derajat tempe agar lebih diakui dunia kini terasa miris ketika dihadapkan dengan kondisi perajin tempe yang dalam beberapa tahun terakhir dihimpit masalah harga kedelai yang terus melambung. Jika para perajin tempe melakukan aksi mogok dan berencana menaikkan harga, pada akhirnya kembali lagi masyarakat Indonesia, para pecinta tempe akan kelimpungan.

Berdasarkan data harga komoditas pokok yang dibagikan Kemendag di situs SP2KP, harga kedelai impor di pasar nasional pada Maret mencapai Rp13.300. Naik 13% apabila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2021 yang masih di harga Rp11.700.

Lonjakan harga tersebut sebetulnya tidak terjadi begitu saja. Perkembangan harga kedelai nasional mengalami tren kenaikan selama tahun 2021. Bahkan, kurva harga di tahun 2021 melambung jauh meninggalkan tren di tahun 2019 dan 2020 yang masih fluktuatif di bawah harga Rp11.000,-. Demikian halnya dengan yang terjadi di awal tahun 2022 yang sudah mencapai angka Rp13.000.

Sementara itu, mengacu data olahan Kemendag terkait perkembangan harga kedelai dunia berdasarkan data Chicago Board of Trade, tren harga kedelai dunia berjalan fluktuatif di tahun 2021. Sempat naik pada Mei 2021 kemudian merosot hingga Oktober. Menjelang akhir tahun 2021 harga kembali merangkak naik di angka USD 469/ton.

Artinya, penurunan harga kedelai dunia tidak berjalan sejajar dengan tren harga kedelai nasional. Sebab seperti yang terlihat pada grafik Tren Harga Kedelai di atas, kecenderungan harga kedelai nasional terus merangkak naik. Bahkan belum terlihat mencapai puncaknya meski kini tengah sampai di angka Rp13.000 per kilogram kedelai.

Kemendag menambahkan bahwa harga rata-rata kedelai internasional pada Januari 2022 sebesar USD 507/ton. Naik 8.09% dari bulan sebelumnya atau naik sebesar 1.31% jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Kenaikan harga tersebut dipicu oleh kondisi kekeringan yang dialami Argentina dan Brazil sebagai salah satu produsen terbesar sehingga mempengaruhi pasokan kedelai dunia. Maka dapat dipastikan bahwa harga kedelai nasional pun masih belum akan turun mengikuti tren kenaikan global.

Sampai kapan Indonesia harus terseok-seok di bawah kuasa importir? Kenapa Indonesia tidak kembali menekuni swasembada kedelai mengingat kedelai adalah bahan pangan penting di Indonesia? Apakah harus menunggu tempe menjadi warisan budaya agar kita bisa sadar pentingnya memproduksi kedelai dalam negeri?

Diedit oleh Ananditya Paradhi

More like this

Pemulihan Industri Otomotif Datang Lebih Cepat

Pandemi Covid-19 bak neraka bagi industri otomotif, penjualan mobil wholesale –dari pabrikan ke dealer–...

Jibaku Lulusan SMK Berebut Kerja dengan Diploma hingga Sarjana

Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki persentase menganggur paling tinggi dibanding dengan jenjang pendidikan...

Jurang Kesenjangan Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan & Laki-laki

Setelah situasi pademi COVID-19 membaik, roda ekonomi kembali melaju. Penyerapan tenaga kerja juga mulai...
%d blogger menyukai ini: