BerandaDeep ReportTren Positif Pertumbuhan Industri Kopi Indonesia, Tetap Harum Meski Terdampak Pandemi

Tren Positif Pertumbuhan Industri Kopi Indonesia, Tetap Harum Meski Terdampak Pandemi

Published on

Tren konsumsi kopi di Indonesia mengalami kenaikan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan konsumsi sejak tahun 2015 hingga 2020 mencapai 10% dengan rata-rata nilai peningkatan di angka 2% per tahunnya. Di sisi lain, produksi dan ekspor kopi dalam negeri sempat mengalami penurunan hingga 13% pada tahun 2019. Meski demikian nilai produksi dan ekspor kopi Indonesia kembali bangkit di dua tahun terakhir.

Bahkan, volume ekspor kopi Indonesia meningkat hingga 18% ketika volume ekspor global mengalami penurunan pada 2021. Demikian halnya dengan konsumsi kopi domestik yang terus meningkat. Kondisi ini pun dimanfaatkan oleh para pelaku industri kopi. Peningkatan tren konsumsi kopi masyarakat Indonesia tak hanya didukung oleh peningkatan jumlah produksi, tetapi juga terfasilitasi oleh kedai kopi yang tumbuh subur di Tanah Air.

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil biji kopi terbesar di dunia. Tidak hanya memproduksi kopi untuk dikonsumsi oleh masyarakat lokal, tetapi juga berhasil mengekspor biji kopi dan kopi olahannya ke mancanegara. Selama 10 tahun terakhir, laju pertumbuhan ekspor Indonesia berada di angka 2% per tahun. Demikian pula dengan kenaikan konsumsi domestik selama 5 tahun terakhir yang berada pada angka yang sama.

Seiring dengan pertumbuhan industri kopi yang baik dalam beberapa waktu terakhir, saat ini kita dapat dengan mudah menemukan kedai kopi ataupun restoran yang menyediakan minuman berkafein ini. Tak hanya di kota-kota besar, kedai kopi lokal kini menjamur hingga ke pelosok negeri. Siapa yang tidak kenal dengan Kopi Janji Jiwa, Kopi Kenangan atau Kopi Kulo yang kini telah memiliki ratusan cabang di Tanah Air, mulai dari gerai kopi grab and go hingga yang berbentuk kafe untuk memfasilitasi mereka yang ingin menikmati kopi di tempat.

Lalu bagaimana tren perkembangan industri kopi dalam beberapa tahun terakhir? Sejauh apa pandemi mempengaruhi industri? Simak hasil analisis Netray berikut.

Produksi Kopi Indonesia

Indonesia tercatat menghasilkan 660 ribu ton kopi pada tahun 2019–2020. Produksi kopi Indonesia terdiri dari 72 persen robusta, 27 persen arabika dan 1 persen liberika. Tiap wilayah di Indonesia menghasilkan kopi-kopi dengan kekhasan aroma dan rasanya masing-masing. Provinsi yang paling produktif menghasilkan kopi adalah Sumatera Selatan.

Pada 2020, Sumatera Selatan tercatat menghasilkan 191.081 ton kopi. Kemudian provinsi penghasil kopi terbanyak kedua di Indonesia adalah Lampung dengan total 118.149 ton. Posisi ketiga dan keempat ditempati oleh Sumatera Utara dan Aceh dengan total produksi di angka 70-an ribu ton.

Sementara itu, mengacu skala nasional, produksi kopi di Indonesia bergerak fluktuatif selama lima tahun ke belakang. Bahkan sempat merosot pada tahun 2019 hingga 13% sebelum akhirnya kembali merangkak naik di dua tahun terakhir. Data selengkapnya dapat diamati melalui grafik berikut.

Ekspor Kopi Indonesia ke Mancanegara

Indonesia masuk dalam empat besar negara pengekspor kopi dunia dengan tren pertumbuhan positif sebesar 18% pada Januari 2021. Berdasarkan statistik ekspor bulanan dari negara anggota dan non-anggota International Coffee Organization (ICO) diketahui nilai ekspor kopi dunia per Januari 2021 mencapai 10,21 juta kantong atau setara 61.260 juta ton. Nilai ini merosot 3,6% dari volume ekspor pada Januari 2020 yang mencapai 63.540 juta ton. Hal ini dipengaruhi oleh nilai ekspor sejumlah negara yang mengalami penurunan. Meski demikian, ekspor Indonesia tetap mengalami kenaikan sebesar 18%.

Tren Konsumsi Kopi Domestik

Tren positif industri kopi di Indonesia dapat ditilik dari data konsumsi kopi domestik di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan laporan dari International Coffee Organization (ICO), konsumsi kopi domestik periode 2015–2020 mengalami kenaikan yang signifikan.

Konsumsi kopi nasional Indonesia selama lima tahun terakhir menunjukkan kenaikan yang konsisten. Pada 2015 konsumsi kopi berada di angka 265 ribu ton, kemudian pada tahun 2020 mencapai 294 ribu ton dengan rata-rata kenaikan 2% per tahunnya.

Sementara itu, konsumsi masyarakat justru relatif masih rendah dibandingkan dengan negara lain secara per kapita. Apabila diasumsikan bahwa jumlah penduduk Indonesia sebanyak 270 juta jiwa, maka rata-rata konsumsi kopi per kapita saat ini adalah 1,1 kg/kapita/tahun. Meskipun angka konsumsi Indonesia tidak begitu tinggi, laju pertumbuhannya positif dari tahun ke tahun.

Tren Konsumsi Domestik Naik, Gerai Kopi Lokal Tumbuh Membaik

Dewasa ini tren minum kopi mengalami kenaikan yang membuat bisnis kuliner yang satu ini menjadi salah satu sektor yang menjanjikan. Tak heran apabila laporan pertumbuhan industri kopi di Indonesia tetap positif meski terdampak pandemi. Peningkatan konsumsi kopi domestik dalam kurun waktu 5 tahun terakhir tidak lepas dari tren pertumbuhan kedai kopi lokal yang juga menjamur dalam beberapa tahun ke belakang.

Peningkatan jumlah gerai kopi di Indonesia diamati oleh Litbang, PT Toffin dan Mix Marketing & Communication. Dalam tiga tahun terakhir jumlah gerai kopi di Indonesia meningkat hampir 3 kali lipat. Pada 2016, jumlahnya sebanyak 1.083 gerai, sementara pada 2019 jumlahnya sudah mencapai lebih dari 2.937 gerai. Temuan ini belum termasuk kedai kopi lokal baru yang mungkin belum memiliki cabang namun jumlahnya sangat banyak.

Laporan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) pada Mei 2020 lalu menunjukkan bahwa jumlah gerai kopi Tanah Air terus berkembang sejak pertama perusahaan didirikan. Misalnya, Kopi Kenangan yang berdiri sejak 2017 lalu kini telah memiliki 567 gerai yang tersebar di 32 kota. Lalu, Janji Jiwa yang didirikan sejak 2018 lalu pada 2021 ini memiliki 900 gerai yang tersebar di 100 kota.

Penyesuaian Industri Kopi di Masa Pandemi

Riset Inventure dan Avara menunjukkan terbatasnya aktivitas di luar rumah menyebabkan konsumsi kopi saset meningkat. Kopi saset menempati urutan pertama sebagai kopi yang paling diminati konsumen selama pandemi yaitu sebesar 48,4%. Berikutnya, kopi kemasan sebesar 36,3% dan paling akhir adalah paket manual brew yaitu 16,7%.

Penelusuran Netray pada Juni 2020 lalu juga menunjukkan bahwa konsumsi kopi saset seperti Nescafe, Kapal Api atau Gooday lebih banyak di tweet kan ketimbang Kopi Kenangan ataupun Janji Jiwa. Salah satu varian kopi Nescafe yang paling banyak disebut adalah Nescafe Classic. Banyak warganet yang menggunakan kopi Nescafe untuk meracik kopi susu ala kafe. Biasanya warganet memadukan kopi Nescafe dengan susu dan beberapa kreasi lain seperti oreo, milo, dan lain-lain.

Hal ini menunjukkan bahwa pandemi telah mengubah perilaku para penikmat kopi dari nongkrong di kedai kopi hingga beralih ngopi di rumah, entah dengan kopi saset atau take away. Artinya, meskipun konsumsi kopi tetap tumbuh baik, industri kedai kopi sedikit terpuruk terutama di sektor kunjungan ke kedai. Namun bukan berarti sektor ini mati sebab mereka masih bisa bertahan dengan menjual kopi kemasan atau take away.

Sebagai contoh, salah satu kedai kopi lokal di Jogja, Couvee tercatat berhasil menjual 10 ribu lebih kopinya melalui platform delivery order Shopee Food. Ini adalah perhitungan satu menu di satu cabang saja, belum termasuk total menu dan total cabang. Artinya, meski dilanda pandemi pengusaha tetap berupaya mencari jalan agar produk mereka tetap laku di pasaran.

Industri kopi di Indonesia tumbuh membaik dalam beberapa tahun ke belakang. Meski nilai produksi sempat merosot pada 2019 lalu, dua tahun terakhir ini Indonesia berhasil mengembalikan tren positifnya baik di sektor produksi maupun ekspor. Bahkan, penurunan volume ekspor kopi dunia di awal Januari 2021 lalu tidak mempengaruhi nilai ekspor Tanah Air. Laju pertumbuhan ekspor Indonesia justru naik hingga 18% dibanding tahun lalu. Tren positif industri kopi di Indonesia juga didorong oleh laju konsumsi domestik yang naik signifikan sejak beberapa tahun ke belakang. Pertumbuhan positif ini tampak dimaksimalkan oleh para pebisnis kopi lokal yang kini semakin padat meramaikan pasar Indonesia.

Situasi pandemi mengubah perilaku masyarakat untuk lebih banyak beraktivitas di rumah. Pandemi juga memberi dampak pada pola perilaku masyarakat dalam mengonsumsi kopi. Namun, tantangan ini tidak lantas mematikan bisnis kedai kopi di Indonesia. Jenis kopi kemasan dengan sistem delivery order menjadi salah satu strategi bertahan bagi para pebisnis. Keberhasilan ini dibuktikan dengan laju pertumbuhan positif kedai kopi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Bagaimana isu atau wacana terkait industri kopi Tanah Air dalam kurun waktu setahun ini dan seperti apa peluang bisnis industri kopi Tanah Air jika dilihat dari perilaku konsumen di media sosial? Simak analisis selengkapnya di Seri Kedua Industri Kopi.

More like this

Jibaku Lulusan SMK Berebut Kerja dengan Diploma hingga Sarjana

Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki persentase menganggur paling tinggi dibanding dengan jenjang pendidikan...

Jurang Kesenjangan Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan & Laki-laki

Setelah situasi pademi COVID-19 membaik, roda ekonomi kembali melaju. Penyerapan tenaga kerja juga mulai...
%d blogger menyukai ini: