BerandaDeep ReportTren Endorsement di Tengah Revolusi Industri 4.0

Tren Endorsement di Tengah Revolusi Industri 4.0

Published on

Revolusi industri 4.0 turut melahirkan adanya persaingan bisnis online. Dengan adanya hal ini tentu saja menjadi tantangan besar bagi pebisnis untuk mempertahankan bahkan mengembangkan produk yang dimilikinya. Strategi pemasaran di era digital, yakni menggunakan cara endorsement menjadi salah satu cara tercepat yang dipilih pemilik merek untuk mengenalkan sebuah produk. Lantas seperti apa tren endorsement ini berkembang di Indonesia? Dan seberapa besar pengaruhya di dunia pemasaran?

Era digital yang berkembang pesat ditandai dengan masifnya pemanfaatan internet untuk memenuhi kebutuhan hidup. Peningkatan yang signifikan dari pengguna internet dengan dominasi penggunaan media sosial menunjukkan bahwa masyarakat telah semakin melek media. Sehingga media sosial menjadi sangat marak dan berhubungan langsung dengan aspek kehidupan masyarakat dalam mendapatkan dan menyebarkan informasi.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Hootsuite, pengguna internet di Indonesia pada tahun 2021 telah mencapai lebih dari 200 juta jiwa. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan pengguna internet dari tahun 2020 yang sebesar 196 juta jiwa. Dari 274,9 juta jiwa populasi penduduk Indonesia ini, 170 juta di antaranya ialah pengguna aktif media sosial. Angka ini menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya, yakni sebesar 160 juta jiwa. Peningkatan penggunaan media sosial tersebut dinilai sebagai salah satu dampak dari pandemi. Pola hidup masyarakat di masa pandemi turut memberikan perubahan pada pola komunikasi yang terbentuk. Pengguna internet yang kian bertambah ini juga menunjukkan bahwa masyarakat telah semakin melek media. Sehingga literasi digital pun juga mengalami perkembangan yang cukup pesat.

Source Hootsuite (We are Social): Indonesian Digital Report 2021

Menurut Douglas A.J. Belshaw literasi digital ialah pengetahuan dan kecakapan seseorang dalam memanfaatkan dan menggunakan media digital. Dalam perkembangannya, pemanfaatan internet, khususnya media sosial telah banyak digunakan masyarakat sebagai media berkomunikasi atau bertukar informasi. Dalam laporan yang dituliskan oleh Hootsuite, platform tertinggi yang diakses oleh masyarakat Indonesia adalah YouTube, yakni sebesar 93,8 persen. Selanjutnya disusul oleh platform Whatsapp dan Instagram. Besarnya penggunaan media sosial ini tentu saja juga mampu memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk terhubung dengan jaringan yang lebih luas dalam bentuk hubungan individual, politik, ataupun kegiatan bisnis.


Source Hootsuite (We are Social): Indonesian Digital Report 2021

Endorsement; Strategi Marketing

Dalam dunia bisnis, pemanfaatan media sosial dapat digunakan sebagai ajang pendekatan antara produsen dengan konsumennya. Fenomena bisnis online di Indonesia kini pun semakin marak seiring dengan pertumbuhan revolusi industri 4.0. Maraknya bisnis online ini pun akhirnya memaksa produsen untuk mencari strategi agar produknya dapat dikenal dan dibeli oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, para pemilik bisnis mencari cara atau strategi dalam marketing bisnis miliknya, yakni salah satunya ialah melalui endorsement.

Endorsement merupakan bentuk kerja sama antara pemilik bisnis dengan artis atau publik figur yang aktif dalam bermedia sosial serta memiliki jumlah followers yang banyak. Jumlah followers yang fantastis tersebut merupakan salah satu indikasi kepopuleran sang pemilik akun. Tak hanya itu, engagement rate juga menjadi salah satu faktor indikator terkenalnya sang pemilik akun. Sehingga sosok inilah yang turut dimanfaatkan oleh pemilik bisnis sebagai ajang pemasaran produk mereka.

Untuk para pelaku bisnis, strategi endorsement memberikan beberapa keuntungan yang cukup besar. Di antaranya ialah;

  1. Meningkatkan kepercayaan konsumen
    Review positif dari pemilik akun (peng-endorse) menambah nilai kepercayaan konsumen terhadap suatu produk.
  2. Meningkatkan jumlah followers
    Dengan adanya pemasaran di dunia digital tentu saja juga akan memberikan manfaat pada akun media sosial pemilik bisnis. Ketertarikan konsumen terhadap produk yang dipasarkan turut memberikan pengaruh kepada jumlah pengikut akun pemilik bisnis.
  3. Meningkatkan Brand Awareness
    Dalam sektor bisnis online, strategi ini merupakan merupakan salah cara tercepat dalam mengenalkan produk di era digital. Sehingga dengan adanya bantuan dari endorsement, produk akan semakin dikenal oleh khalayak umum.

Untuk mempermudah mencari talent tersebut, saat ini laman penyedia jasa influencer juga telah tersedia di beberapa platform. Salah satunya ialah yang dimiliki oleh laman Sociabuzz. Laman tersebut merupakan online marketplace yang menghubungkan antara pebisnis dengan influencer media sosial. Tujuannya ialah untuk menciptakan pemasaran word of mouth dalam media sosial, seperti Instagram, YouTube, Twitter, ataupun TikTok. Influencer dari SociaBuzz memiliki rate card dan engagement rate yang berbeda-beda serta bersifat individu.

source Sociabuzz

Selebgram dan Tarif Endorse

Dari deretan platform media sosial populer di atas, Instagram menjadi salah satu kanal yang paling banyak digunakan pemilik bisnis online sebagai ajang pemasaran. Bahkan seiring dengan pesatnya penggunaan Instagram, muncul istilah baru yakni selebgram. Selebgram merupakan sosok yang terkenal dalam media Instagram. Cara merepresentasikan diri melalui akun sosialnya menjadi daya jual selebgram di mata pemilik bisnis. Beberapa nama besar selebgram Indonesia pun kini telah menjadi sorotan lantaran daya tariknya dalam dunia pemasaran memiliki kekuatan yang begitu besar.

Salah satu yang memiliki nilai fantastis dalam dunia selebgram ialah beauty vlogger bernama Tasya Farasya. Mengutip dari laman Kompiwin, selebgram yang juga dikenal sebagai YouTuber ini diperkirakan memiliki tarif endorse kurang lebih sebesar 20 juta dalam sekali posting. Kisaran harga tersebut tentu saja berbeda pada setiap kategori pemasaran yang ditawarkan oleh Tasya. Pemasaran seperti menggunakan foto, video, ataupun snapgram akan memberikan tarif yang berbeda pada setiap konten iklan yang diciptakannya. Tak hanya Tasya, beberapa selebgram yang saat ini sedang naik daun pun juga diperkirakan memiliki tarif endorse yang cukup tinggi.

Infografik Netray

Feedback pada Produk

Endorsement digunakan pemilik bisnis sebagai ajang menyebarluaskan produk dengan tujuan utama ialah mencari laba. Strategi ini bahkan dinilai lebih efisien dan ekonomis dibandingkan dengan iklan konvensional pada umumnya. Lantas seperti apa pengaruh seorang selebgram terhadap produk yang diiklankannya?

Dari selebgram Tasya, salah satu contoh produk terbaru yang di-endorse dan baru saja diunggah pada akun instagramnya ialah brand kosmetik. Dari unggahan tersebut terlihat adanya interaksi maupun impresi dari pengikut Tasya. Dalam sekali post tersebut, bahkan Tasya mampu mendapatkan puluhan ribu like dan ratusan komentar dari pengikutnya di unggahan ini.

Dan yang menjadi indikasi tarif endorse puluhan juta tersebut tentunya ialah engagement rate dari followers Tasya tersebut. Dari postingan ini, Tasya berhasil memberikan pengaruh bagi pengikutnya terhadap produk yang dipasarkannya. Terlihat dari komentar di bawah ini, pengikut Tasya juga menggunakan produk tersebut lantaran ‘keracunan’ dari hasil review yang diberikan oleh Tasya.

source akun instagram Tasya Farasya
source akun instagram Tasya Farasya

Era digital tentu saja membawa dan memaksa perubahan signifikan bagi segala sektor. Seperti halnya dalam dunia berbisnis, mulai dari bisnis kecil hingga besar diperlukan strategi pemasaran terbaru sesuai perkembangan zaman yang ada. Fenomena pemasaran online menggunakan selebgram ataupun influencer merupakan salah satu cara yang dipilih oleh pebisnis di era ini. Dengan, mencari atensi pengikut sang influencer pemilik merek berharap besar produknya dapat dikenal bahkan dibeli sehingga mampu memberikan laba bagi merek.

More like this

Jibaku Lulusan SMK Berebut Kerja dengan Diploma hingga Sarjana

Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki persentase menganggur paling tinggi dibanding dengan jenjang pendidikan...

Jurang Kesenjangan Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan & Laki-laki

Setelah situasi pademi COVID-19 membaik, roda ekonomi kembali melaju. Penyerapan tenaga kerja juga mulai...
%d blogger menyukai ini: