BerandaDeep ReportTingkat Konsumsi Daging Rendah karena Mahal?

Tingkat Konsumsi Daging Rendah karena Mahal?

Published on

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan data produksi dan konsumsi daging mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Data dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) juga menunjukkan rata-rata konsumsi daging per kapita di Indonesia jauh di bawah angka konsumsi daging dunia.

Dilihat lebih jauh, penurunan konsumsi daging khususnya daging sapi terjadi juga di tingkat dunia. Dalam 10 tahun terakhir rentang 2012–2021, OECD mencatat terjadi penurunan konsumsi daging sapi di tingkat dunia dari tahun 2012 sebanyak 6,433 kilogram per kapita pada 2021 turun jadi 6,377 kilogram per kapita. Sedangkan Indonesia dari data yang sama pada 2021 hanya 2,2 kilogram per kapita.

Bila dirunut lebih jauh lagi, penurunan tingkat konsumsi daging ini tidak dapat dilepaskan dari munculnya kampanye untuk mengurangi konsumsi daging demi kelestarian lingkungan. Kampanye itu muncul di sejumlah artikel pemberitaan media berbasis di Indonesia maupun luar negeri.

Kampanye itu juga sempat diperkuat dari penelitian berjudul “Bayangan Panjang Peternakan (Livestock’s Long Shadow) yang diterbitkan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) pada 2006. Disebut bahwa ternak memberikan kontribusi lebih banyak dalam kerusakan lingkungan dibanding semua moda transportasi.

Meski pada akhirnya klaim dalam penelitian itu dikoreksi oleh salah satu penulisnya, bahwa ada masalah pada metode penelitian sehingga kesimpulan menjadi tidak akurat. Namun demikian pendapat yang menyebut bahwa peternakan berkontribusi cukup besar terhadap kerusakan lingkungan sehingga harus mengurangi konsumsi daging masih ada dan dipercaya.

Kepercayaan itu juga tampaknya terjadi di Indonesia bila melihat tren penurunan produksi dan konsumsi daging setidaknya dalam 4 tahun terakhir. Meski dalam kenyataannya ada sejumlah faktor lain yang lebih dominan semisal faktor daya beli masyarakat sebagaimana yang disebut Kementerian Perdagangan (Kemendag) mempengaruhi tingkat konsumsi daging di Indonesia.

Laporan BPS tentang pemotongan hewan ternak tahun 2021 yang mencakup data tentang kegiatan pemotongan dan produksi hasil pemotongan ternak memang menunjukkan bahwa beberapa hewan ternak yakni sapi, kambing, dan domba mengalami penurunan.

Sementara itu dilihat dari tingkat konsumsi, masih berdasarkan laporan BPS 2021, selama 4 tahun kebelakang sejak tahun 2018 hingga tahun 2021 rata-rata-rata konsumsi daging relatif stagnan.

Artinya tidak ada peningkatan yang signifikan dari masing-masing jenis daging kecuali daging babi. Angka rata-rata konsumsi daging babi terus mengalami kenaikan hingga tahun 2021.

Akan tetapi, mayoritas masyarakat lebih sering mengonsumsi daging sapi dan kambing. Seperti diketahui bahwa mayoritas masyarakat Indonesia ialah umat muslim yang dimana halal dan haram menjadi salah satu tolak ukur dalam memilih makanan.

Berdasarkan data di atas, rata-rata konsumsi daging sapi dan daging kambing dari tahun 2018 hingga tahun 2021 terus mengalami penurunan. Selain itu, rata-rata konsumsi daging kuda dan kerbau pun relatif menurun dan tidak menunjukkan kenaikan di tahun 2021.

Pada 2018 total keseluruhan konsumsi daging ternak di Indonesia sebesar 15,1 kg. Kemudian di tahun 2019 konsumsi daging mengalami penurunan menjadi 13 kg. Akan tetapi jumlah rata-rata konsumsi daging mengalami sedikit kenaikan di tahun 2020 dan 2021. Kenaikan rata-rata ini dipengaruhi karena konsumsi daging babi yang terus naik. Tahun 2020 rata-rata jumlah konsumsi daging sebesar 13,3 kg dan tahun 2021 naik 0,9 kg menjadi 14,2 kg.

Namun angka rata-rata jumlah konsumsi daging di tahun 2021 tetap lebih rendah dibandingkan dengan angka konsumsi daging pada tahun 2018. Dari tahun 2018 dan 2021 angka konsumsi daging berselisih sebesar 0,9 kg.

Dilihat dari grafik persentase produktivitas ternak pada gambar di atas, tingkat karkas atau seluruh daging dan tulang dari hewan ternak yang dipotong tanpa kepala, jeroan, dan kaki bagian bawah lebih dominan daripada jumlah daging konsumsi atau daging murni. Persentase karkas dari masing-masing hewan ternak menyentuh angka 50% dan daging konsumsi dari masing-masing ternak berada di bawah angka 50%.

Tingkat Harga Pengaruhi Konsumsi Daging

Jika melihat angka produktivitas daging hanya berdasarkan daging konsumsi atau daging murni tanpa tulang, maka memang jumlah daging setiap ternak menjadi sedikit. Sehingga bisa jadi jumlah daging yang beredar di pasar jumlahnya menjadi lebih sedikit kemudian berpengaruh pada harga jual daging.

Dari analisis itu, apabila merunut berdasarkan faktor-faktor yang disebutkan Kemendag sangat memungkinkan sekali bahwa menurunnya konsumsi daging masyarakat karena faktor ketersediaan, harga komoditas daging, dan pendapatan masyarakat. Tingginya harga suatu komoditas dengan tingkat pendapatan masyarakat yang tidak sepadan maka akan berpengaruh pada rendahnya pembelian dan tingkat konsumsi.

Selain itu penelitian Rodhiah Umaroha & Anggita Vinantia dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM tahun 2018 dengan judul “Analisis Konsumsi Protein Hewani pada Rumah Tangga” juga menyebutkan faktor yang mempengaruhi permintaan suatu barang oleh konsumen di antaranya ialah pendapatan, harga barang, dan selera. Faktor-faktor tersebut memiliki pengaruh yang dominan dalam konsumsi rumah tangga.

Dalam hal ini, harga daging dari masing-masing hewan ternak relatif mahal. Seperti disebutkan bahwa faktor harga menjadi faktor penting yang mempengaruhi konsumsi masyarakat.

Dilansir dari laman Tokopedia, harga daging dari masing-masing hewan ternak berada di atas Rp100.000 per 1 kilogram. Harga daging kambing per 1 kilogram dijual sekitar harga Rp105.000. Daging kuda 1 kilogram berada di angka Rp195.000. Kemudian harga daging domba dijual sekitar harga Rp140.000. Disusul dengan harga daging sapi yang dijual seharga Rp150.000 per 1 kilogramnya. Lalu daging kerbau seharga Rp100.000 per 1 kilogramnya dan terakhir daging babi per 1 kilogram dijual seharga Rp130.000.

Harga Daging Mahal

Harga ratusan ribu rupiah untuk 1 kilogram daging yang jumlahnya tidak terlalu banyak dinilai mahal bagi masyarakat. Argumen ini terkonfirmasi oleh opini yang dicuitkan warganet sebagai wakil dari masyarakat.

Dengan melakukan pemantauan dalam periode waktu 1 tahun lebih 5 bulan yakni pada 1 Januari 2021–23 Mei 2022 perbincangan terkait daging di media sosial Twitter sebanyak 22.346 twit total keseluruhan.

Gambar 1. Statistik hasil analisis Netray di Twitter soal daging

Melalui kata kunci berupa “daging babi”, “daging domba”, “daging kambing”, ”daging kerbau”, ”daging kuda”, dan “daging sapi” warganet ramai mengulas topik seputar hewan ternak mencapai impresi 2,8 juta kali dengan potential reach sebesar 183,7 juta kali.

Gambar 2. Statistik hasil analisis Netray berdasarkan jenis daging

Topik-topik yang diperbincangkan warganet dari masing-masing kata kunci berpotensi luas menarik atensi publik. Melalui kata kunci dari keenam hewan ternak tersebut, daging sapi masih menjadi topik yang paling banyak diperbincangkan dengan perolehan impresi warganet sebesar 2,5 juta dan twit sebanyak 14.645 ribu.

Kemudian di urutan selanjutnya daging yang banyak diperbincangkan ialah daging babi sebanyak 4.533 twit dan daging kambing sebanyak 2.412 twit. Sedangkan daging hewan ternak yang lainnya kurang ramai menarik atensi warganet. Seperti daging kuda, daging kerbau, dan daging domba yang hanya diperbincangkan sebanyak ratusan twit dalam periode 1 tahun lebih.

Selama periode pemantauan perbincangan seputar daging hewan ternak di Twitter didominasi oleh twit bersentimen negatif. Perbandingan antara twit bersentimen negatif dengan twit sentimen positif jauh lebih banyak twit dengan sentimen negatif. Sebanyak 49% dari total keseluruhan twit dari masing-masing kata kunci dipenuhi opini bernada negatif.

Opini negatif tersebut banyak disumbang dari keluhan warganet tentang harga daging yang dinilai mahal. Berikut contoh twit opini warganet terkait mahalnya harga daging hewan ternak.

Gambar 3. Sampel twit daging sapi
Gambar 4. Sampel twit daging babi
Gambar 5. Sampel twit daging kambing
Gambar 6. Sampel twit daging kerbau
Gambar 7. Sampel twit daging kuda
Gambar 8. Sampel twit daging domba

Dari beberapa contoh twit warganet, mayoritas mengungkapkan opini untuk tiap-tiap daging hewan ternak dengan harga yang mahal. Warganet menilai harga daging dari masing-masing hewan ternak tersebut selalu mengalami kenaikan.

Daging kerbau pun yang dianggap lebih murah dibanding daging sapi juga mengalami kenaikan. Kenaikan harga juga berlaku pada daging kambing dan daging domba yang selama ini banyak dibeli masyarakat karena harganya lebih terjangkau dari daging sapi.

Selain itu sebagian warganet berkomentar bahwa daging babi yang biasanya berada di harga stabil pun turut mengalami kenaikan. Sementara itu untuk daging kuda, warganet sependapat bahwa daging kuda memang mahal sejak awal karena harga per kilogramnya tidak fluktuatif.

Editor: Irwan Syambudi

More like this

Jibaku Lulusan SMK Berebut Kerja dengan Diploma hingga Sarjana

Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki persentase menganggur paling tinggi dibanding dengan jenjang pendidikan...

Jurang Kesenjangan Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan & Laki-laki

Setelah situasi pademi COVID-19 membaik, roda ekonomi kembali melaju. Penyerapan tenaga kerja juga mulai...
%d blogger menyukai ini: