BerandaDeep ReportMembedah Mitos Milenial Susah Punya Rumah

Membedah Mitos Milenial Susah Punya Rumah

Published on

Data BPS dalam level nasional menunjukkan bahwa persentase rumah tangga dengan status kepemilikan rumah sendiri pada tahun 2021 adalah 81,08%. Sedangkan yang memilih untuk menyewa tempat tinggal sebesar 8,66%. Lantas apakah hal ini bisa menjadi bukti yang membalik anggapan umum jika Generasi Milenial dan Generasi Z susah punya rumah?

Dari data yang sama bahkan diketahui apabila persentase tersebut tidak banyak berubah dari tahun ke tahun. Memang jumlah rumah tangga yang memiliki rumah dengan kepemilikan pribadi terlihat fluktuatif. Tetapi masih selalu di atas tiga perempat dari total rumah tangga di Indonesia.

Sekitar dua dekade lalu persentase rumah tangga yang memiliki rumah diketahui sebesar 84,98% (1999). Sedangkan 10 tahun kemudian yakni pada tahun 2009 angkanya menurun jadi 79,36%. Dan naik tipis pada 2019 menjadi 80,07%. Lebih lengkapnya simak Grafik 1 mengenai status kepemilikan rumah di bawah ini.

Apakah angka persentase yang selalu naik turun ini sudah efektif menggambarkan situasi di lapangan? Pasalnya bagaimanapun jika melihat dua dekade lalu di tahun 1999 memiliki generasi yang berbeda dengan yang sekarang. Konteks sosial ekonomi masyarakat yang dihadapi masing-masing generasi juga sudah banyak berubah. Gagasan divisi generasi semacam ini yang melahirkan anggapan tentang masyarakat dan kepemilikan rumah.

Untuk menggali lebih dalam terkait postulat data di atas, minimal ada dua hal yang terlebih dahulu harus diperjelas posisinya. Pertama adalah bagaimana kita mendefinisikan generasi yang pada akhirnya menjadi subjek dari kurun masa tertentu atas data kepemilikan rumah. Kedua yakni berkaitan dengan objek data BPS yakni rumah tangga.

Generasi dan Kepemilikan Rumah

Ketika data kepemilikan rumah pribadi menunjukan periode tahun 1999, maka kecenderungan subjek generasi yang dimaksud adalah Generasi X dalam pengertian teori generasi Strauss-Howe. Generasi ini lahir dari kurun tahun 1961 hingga 1981 yang idealnya berusia 25 hingga 40 tahun ketika memiliki rumah di periode ini.

Memang tidak ada aturan kapan usia yang tepat untuk memiliki rumah. Termasuk juga riset yang melihat kecenderungan usia masyarakat Indonesia membeli properti. Hanya pandangan umum bahwa pada kisaran umur ini, seseorang mungkin sudah cukup mapan untuk membeli papan sebagai tempat tinggal.

Sedangkan subjek generasi pada data kepemilikan rumah di periode 2021 adalah Generasi Y atau yang lebih jamak disebut dengan generasi milenial. Mereka adalah generasi yang lahir antara tahun 1982 hingga 2004 yang pada periode itu berusia antara 18 hingga 39 tahun. Namun pada periode 2021 juga memungkinkan Generasi X sebagai subjek kepemilikan rumah yang notabene berusia 40 tahun ke atas.

Pada tahun 1999, penduduk Indonesia yang tergolong Generasi X berjumlah 69.202.984 jiwa. Jika dikelompokkan di usia ideal kepemilikan rumah yakni 25–35 tahun, maka terdapat 49.944.883 jiwa penduduk Indonesia menurut survei BPS pada tahun 2000. Sementara itu pada tahun 2020 jumlah penduduk yang berada dalam usia ideal sebanyak 69,38 juta jiwa, sedangkan populasi Generasi X masih sebanyak 58,65 juta jiwa.

Kembali ke pertanyaan awal apakah dengan proporsi jumlah penduduk Generasi X dan Milenial, situasi kepemilikan rumah oleh rumah tangga bisa berubah? Pasalnya pengertian rumah tangga bagi BPS adalah seseorang atau sekelompok orang yang memenuhi kebutuhan hidup dalam satu pengelolaan (mis. makan dari satu dapur).

Bersumber Buku Statistik Tahunan BPS pada tahun 1999, jumlah penduduk Indonesia mencapai 179,4 juta jiwa. Setahun kemudian jumlah rumah tangga Indonesia sendiri kurang lebih 52 juta rumah tangga. Sedangkan rata-rata jumlah anggota rumah tangga nasional adalah 4,5 jiwa.

Sehingga dapat diasumsikan bahwa hampir seperlima penduduk Indonesia pada saat itu adalah Generasi X yang menjadi kepala rumah tangga yang membutuhkan rumah atau tempat tinggal guna menjalani kehidupan.

Dari sekian juta rumah tangga di tahun 2000, pada Grafik 1 ditunjukkan bahwa 84,68 % merupakan rumah tangga yang memiliki rumah sendiri. Jadi terdapat sekitar 44 juta rumah tangga yang diketahui memiliki hunian secara pribadi.

Di tahun 2019 jumlah rumah tangga Indonesia naik menjadi 68,7 juta dari total penduduk sebanyak 271,1 juta jiwa. 80,07 % rumah tangga tersebut, atau sekitar 55 juta rumah tangga tinggal di rumah dengan status kepemilikan rumah sendiri (Grafik 3).

Jumlah penduduk dalam 2 dekade hampir naik 100 juta. Namun dalam waktu yang sama jumlah rumah tangga yang memiliki rumah dengan status kepemilikan pribadi ternyata hanya meningkat 11 juta.

Peningkatan tersebut terasa kurang signifikan dan menjadi sinyal tersendiri mengingat perbedaan demografi penduduk di antara dua dekade tersebut. Pasalnya rumah tangga Generasi X bisa jadi saat ini masih aktif dan memenuhi sebagian besar populasi. Sedangkan dari data tersebut diketahui tidak terjadi peningkatan jumlah secara eksponensial.

Generasi Milenial seharusnya sudah mampu bertransformasi menjadi rumah tangga dalam arti mendiami bangunan dan mengatur kebutuhan sendiri. Tetapi ternyata justru tidak banyak menambah jumlah rumah tangga apabila dibanding dua dekade yang lalu. Padahal populasi penduduk Indonesia sendiri juga melonjak hampir 100 juta jiwa.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memperkirakan ada 81 juta Generasi Milenial yang dikategorikan kelahiran 1980–2000an belum memiliki rumah. Terus naiknya harga properti disebut sebagai salah satu penyebab utama Generasi Milenial belum memiliki rumah.

Namun ada banyak alasan di balik situasi dimana Generasi Milenial belum berumah tangga dan memiliki rumah. Sangat mungkin hal itu bersinggungan dengan permasalahan kepemilikan rumah atau tempat tinggal. Misalkan Generasi Milenial yang sudah menikah memilih untuk tetap tinggal bersama orang tua mereka karena belum mampu membeli rumah sendiri.

Sehingga masuk akal apabila grafik kepemilikan rumah dari rumah tangga Indonesia terkesan stagnan meski di level yang tinggi. Tetapi di sisi lain jumlah penduduk meningkat secara drastis. Tak banyak Generasi Milenial yang bisa bertransformasi menjadi rumah tangga meski sudah dalam koridor usia yang ideal. Salah satu alasan yang kuat tentu saja karena tidak mampu mengakses kepemilikan rumah atau tempat tinggal sendiri.

Editor: Irwan Syambudi

More like this

Pemulihan Industri Otomotif Datang Lebih Cepat

Pandemi Covid-19 bak neraka bagi industri otomotif, penjualan mobil wholesale –dari pabrikan ke dealer–...

Jibaku Lulusan SMK Berebut Kerja dengan Diploma hingga Sarjana

Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki persentase menganggur paling tinggi dibanding dengan jenjang pendidikan...

Jurang Kesenjangan Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan & Laki-laki

Setelah situasi pademi COVID-19 membaik, roda ekonomi kembali melaju. Penyerapan tenaga kerja juga mulai...
%d blogger menyukai ini: