BerandaDeep ReportFenomena Pulau Bahang Penyebab Cuaca Panas di Perkotaan

Fenomena Pulau Bahang Penyebab Cuaca Panas di Perkotaan

Published on

Suhu udara di wilayah perkotaan di Indonesia akhir-akhir ini terasa lebih panas dan gerah. Hal ini yang ditemukan Netray ketika memantau perbincangan di linimasa Twitter pada periode 30 April hingga 13 Mei 2022. Kata kunci “cuaca”, “panas”, dan “gerah” menjadi keluhan umum yang setidaknya ditulis warganet ke dalam 65.685 twit.

Gambar 1. Linimasa perbincangan warganet

Ada banyak alasan mengapa suhu di sejumlah kota terasa tidak nyaman karena panas dan gerah. Jika merujuk dari penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), peningkatan suhu ini disebabkan penerimaan sinar matahari yang optimal karena dominasi cuaca yang cerah dan tingkat awan yang rendah. Ini adalah fenomena alam yang umum terjadi menjelang musim kemarau.

Temuan Netray dari linimasa Twitter juga menunjukkan alasan lain dibalik fenomena ini. Akun @killthedj milik seniman asal Yogyakarta Marzuki Mohammad, membuat utas yang membahas tentang fenomena pulau bahang perkotaan yang disinyalir menjadi penyebab suhu panas tersebut. Marzuki jelas bukan seorang ahli cuaca atau klimatologis, tetapi topik yang ia bicarakan dapat digali lebih dalam lagi.

Gambar 2. Grafik Top Accouts Netray
Gambar 3. Twit membahas UHI

Istilah pulau bahang perkotaan, atau yang dalam bahasa Inggris urban heat island (UHI), sekiranya masih asing ditelinga khalayak. Padahal mungkin wujudnya sudah sangat sering dirasakan. UHI adalah keadaan ketika suhu udara di area perkotaan yang padat penduduk lebih tinggi/hangat daripada wilayah pinggiran atau pedesaan.

Keberadaan UHI bisa berpengaruh di sejumlah perkara seperti kenyamanan, polusi udara, manajemen energi, hingga perencanaan kota. Semisal karena suhu panas, penduduk kota menggunakan penyejuk ruangan yang menyedot energi listrik dan malah menambah panas area tersebut. Kota juga harus menyediakan kecukupan ruang terbuka hijau agar situasi UHI tidak semakin parah.

Dari pemantauan Netray, terdapat beberapa kota yang paling sering disebut oleh warganet. Antara lain seperti Jakarta, Bandung, Bekasi, Bogor, dan Yogyakarta. Warganet dari kelima kota ini mengeluhkan hawa panas yang kemungkinan besar dipengaruhi oleh keberadaan pulau bahang perkotaan. Guna memeriksa hal ini, penulis melacak artikel, terbitan, hingga penelitian dari para akademisi.

Gambar 4. Grafik Top Locations Netray

UHI Kota Jakarta

Kepadatan populasi penduduk DKI Jakarta telah mencapai 16.000 jiwa per km2. Hal ini menjadi salah satu faktor meningkatnya cakupan UHI. Penelitian C. D Putra dkk yang berjudul “Increasing Urban Heat Island area in Jakarta and it’s relation to land use changes C D Putra” (2021) menunjukkan cakupan UHI DKI Jakarta terus meningkat dalam rentang waktu 2008–2018.

Pada 2008 cakupan UHI atau daerah yang memiliki suhu lebih panas hanya 36,5%, kemudian menjadi 84,7% pada tahun 2013 dan terakhir pada tahun 2018 mencapai 93,7% atau seluas 653 km2. Luasan yang hampir menyelimuti seluruh DKI Jakarta itu didomuniasi UHI dengan suhu 30,1 sampai 34 celcius.

Gambar 5. Citraan Temperatur Permukaan DKI Jakarta (sumber: C.D Putra, dkk)

Peningkatan suhu dapat dilihat pada tahun 2013 yang sebagian besar wilayah UHI memiliki rentang suhu 30,1 ºC — 34 ºC, kemudian di tahun 2018 sudah didominasi suhu di atas 34.10 ºC. Jakarta Timur menjadi wilayah yang terdampak UHI temperatur tinggi terluas. Kondisi ini menyebar ke wilayah barat, utara, selatan hingga seperti yang terlihat pada grafik di atas. Lantas mengapa keberadaan UHI di DKI Jakarta semakin tak terbendung?

Gambar 6. Penggunaan Lahan di DKI Jakarta (sumber: C.D Putra, dkk)

Pembangunan area perumahan, perkantoran, dan industri menjadi penyebab utama fenomena pulau bahang. Hampir semua sektor pembangunan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hanya perumahan saja yang sempat mengalami sedikit penurunan.

Penelitian C.D Putra dkk membuktikan bahwa penggunaan lahan untuk pembangunan lebih berpengruh terhadap perluasan dan kenaikan UHI.

Bekasi, Kontinuitas Kota Jakarta

Pembangunan Kota Jakarta tak lagi terpisahkan oleh perbatasan. Salah satu kota yang terhubung dengan Jakarta adalah Kota Bekasi di sebelah timur, yang berbatasan langsung dengan wilayah Jakarta Timur. Riset yang dilakukan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, Eka Budi Khoirul pada tahun 2019 menunjukan fakta bahwa Land Surface Temperature (LST)Kota Bekasi berkisar di antara angka 30,6 ºC dan 47,6 ºC.

Gambar 7. Temperatur permukaan Kota Bekasi (sumber: Eka Budi Khoirul)

Distribusi UHI di kota ini masih sejajar dengan grafik LST. Dominasi suhu panas berada di sisi utara dan barat kota. Tingkat konversi lahan di Kota Bekasi mencapai 44,94 %. Daerah seperti Medan Satria, Bekasi Barat, dan Pondok Gede merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta. Meskipun kota ini mengalami pembangunan dengan cepat, masih cukup banyak ruang hijau terbuka, seperti sawah, tegal, atau taman, yang tersisa di wilayah selatan.

Gambar 8. Wajah Pulau Bahang Bekasi (sumber: Eka Budi Khoirul)

Kota (Tak) Ramah Temperatur, Bandung dan Bogor

Dua kota dengan karakteristik yang cukup serupa, yakni Kota Bandung dan Kota Bogor, muncul di grafik lokasi dari pemantauan Netray. Warganya mengeluh bahwa kota ini tak lagi sejuk seperti sedia kala. Penelusuran hasil riset UHI memperlihatkan bahwa suhu Bandung pada tahun 2018 berkisar antara 19,2 ºC hingga 36,1 ºC. Sedangkan Kota Bogor pada tahun 2017 berada di rata-rata suhu 25,44 ºC.

Gbr. 9 Twit Warganet Bandung dan Bogor
Gambar 10. Suhu dan tutupan lahan Kota Bandung (sumber: M Zakir dan Rika Hernawati)

Urbanisasi besar-besaran dan perubahan status tanah menjadi bangunan masih menjadi faktor utama UHI di kedua kota ini. Soil Adjusted Vegetation Index (SAVI) di pusat kota Bandung menurut citraan satelit Landsat 8 terhitung sangat rendah. Di bagian pinggir kota terlihat pada skala rendah. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar lahan di kota tersebut dimanfaatkan sebagai ruang hunian alih-alih ruang terbuka hijau.

Gambar 11. Suhu Kota Bogor (sumber: Tsuyoshi Honjo dan Atik Nurwanda)
Gambar 12. Perbandingan penggunaan lahan Bogor 1990–2017 (sumber: Tsuyoshi Honjo dan Atik Nurwanda)

Sedangkan untuk Kota Bogor, peneliti Graduate School of Horticulture, Chiba University memperlihatkan perubahan penggunaan lahan dari tahun 1990 ke tahun 2017. Ekspansi bangunan, tipe compact low-rise building, di pusat kota terlihat sangat masif. Total luas area urban mencapai 27,24 % pada tahun 2017. Padahal pada tahun 1990 hanya mengambil porsi 9,38 % saja. Hal ini yang membuat fenomena suhu tinggi efek pulau bahang sangat dirasakan warga setempat.

Pulau Bahang Kota Yogyakarta

Kota dengan urban heat island terakhir yang akan ditilik ulang adalah Kota Yogyakarta. Citraan satelit hasil riset memperlihatkan bahwa temperatur permukaan Kota Yogyakarta (urban) memang lebih tinggi daripada sejumlah wilayah di sekitarnya (sub urban). Temperatur di dalam pulau bahang di Yogyakarta tercatat antara 27 ºC hingga 36 ºC. Bahkan perbedaan suhu antara pusat kota dengan wilayah pedesaan di sekitarnya bisa mencapai angka 18 ºC.

Gambar 13. Pulau Bahang Kota Yogyakarta dan sekitarnya (sumber: Nurul Ihsan Fawzi)

Menyimak pemaparan sejumlah riset terkait fenomena pulau bahang di beberapa kota, mau tak mau kita harus punya visi yang berbeda dalam membangun kota dibandingkan yang sekarang. Meskipun laju urbanisasi tidak dapat ditahan, pembangunan ruang hidup manusia di kota tak lantas mengorbankan ruang terbuka hijau demi sejumlah hal. Seperti kualitas hidup manusia, kenyamanan, kebutuhan energi, hingga polusi udara.

Editor: Irwan Syambudi

More like this

Jibaku Lulusan SMK Berebut Kerja dengan Diploma hingga Sarjana

Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki persentase menganggur paling tinggi dibanding dengan jenjang pendidikan...

Jurang Kesenjangan Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan & Laki-laki

Setelah situasi pademi COVID-19 membaik, roda ekonomi kembali melaju. Penyerapan tenaga kerja juga mulai...
%d blogger menyukai ini: