Perbincangan tentang artificial intelligence dalam dunia kerja sering kali dimulai dari kekhawatiran: apakah AI akan menggantikan manusia? Namun, jika dilihat dari praktik sehari-hari, perubahan yang terjadi justru lebih subtil. AI tidak serta-merta mengambil alih peran manusia, melainkan mengubah cara kerja. Salah satu konsep yang menjelaskan pergeseran ini adalah agentic AI.
Agentic AI merujuk pada pendekatan di mana AI tidak lagi hanya menunggu perintah, tetapi mampu memahami tujuan, menyusun langkah kerja, dan menjalankan proses secara mandiri dengan pengawasan manusia. Perubahan ini bukan konsep abstrak sebab dampaknya sudah mulai terasa dalam rutinitas kerja banyak organisasi, termasuk di Indonesia.
Dari Menunggu Perintah ke Mengelola Proses
Dalam keseharian, banyak pekerja sudah akrab dengan AI sebagai alat bantu. Misalnya, menggunakan AI untuk merangkum dokumen, menyusun draf laporan, atau membantu mencari informasi. Pada tahap ini, AI bersifat reaktif karena ia bekerja setelah diminta. Di sisi lain, agentic AI bekerja dengan logika yang berbeda.
Bayangkan sebuah tim humas di instansi pemerintah atau BUMN yang setiap hari perlu memantau pemberitaan dan percakapan publik. Dengan pendekatan lama, staf harus membuka berbagai portal berita, media sosial, lalu menyusun ringkasan secara manual. Dengan pendekatan agentic, sistem dapat memantau sumber-sumber relevan secara terus-menerus, mengelompokkan isu yang muncul, dan menyiapkan ringkasan awal tanpa perlu diminta setiap pagi. Jadi, pada prinsipnya manusia tetap memegang kendali meskipun perannya sedikit bergeser: dari pengumpul informasi menjadi penilai konteks dan pengambil keputusan.
Baca Juga: Prediksi Tren AI yang Akan Populer di Tahun 2026
Contoh Nyata di Lingkungan Kerja Indonesia
Pergeseran ini juga terlihat dalam pekerjaan administratif yang umum di banyak organisasi Indonesia. Di kantor pemerintahan, misalnya, penyusunan laporan rutin sering kali mengikuti format yang sama dari waktu ke waktu. Dengan agentic AI, sistem dapat menarik data secara berkala, menyusunnya ke dalam format laporan yang sudah ditentukan, lalu menandai bagian yang memerlukan perhatian khusus, seperti lonjakan isu atau anomali data.
Di sektor korporasi, agentic AI mulai membantu tim komunikasi dan manajemen risiko dalam memantau reputasi merek. Ketika muncul percakapan negatif atau isu sensitif, sistem dapat mendeteksi pola sejak dini dan memberi notifikasi kepada tim terkait. AI tidak memutuskan langkah komunikasi, tetapi memastikan manusia tidak terlambat menyadari perubahan sentimen publik.
Bahkan dalam koordinasi kerja sehari-hari, peran AI mulai terasa. AI tidak hanya mengingatkan jadwal rapat, tetapi juga membantu menyusun prioritas berdasarkan urgensi tugas dan ketersediaan tim. Hal-hal kecil ini menunjukkan bagaimana AI mulai mengelola proses, bukan sekadar menjalankan perintah.
Dampaknya bagi Cara Kita Bekerja
Ketika AI mengambil alih tugas-tugas yang repetitif dan berbasis pola, waktu manusia terbebaskan untuk pekerjaan yang lebih bernilai. Seorang analis, misalnya, tidak lagi menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membersihkan data atau menyusun ringkasan dasar. Ia dapat fokus pada interpretasi, membaca konteks sosial, dan menyusun rekomendasi yang lebih strategis.
Dalam konteks Indonesia, banyak keputusan perlu mempertimbangkan aspek sosial dan budaya. Karena itu, pergeseran ini menjadi semakin penting. AI membantu menyediakan gambaran data yang rapi dan konsisten, sementara manusia memastikan bahwa keputusan yang diambil selaras dengan realitas di lapangan.
Tantangan Baru: Ketergantungan dan Akuntabilitas
Namun, semakin mandiri AI dalam menjalankan proses, semakin besar pula risiko ketergantungan berlebihan. Ringkasan yang terlihat rapi dan analisis yang tampak objektif bisa membuat manusia lupa bahwa AI tetap bekerja berdasarkan data dan asumsi tertentu.
Dalam praktik sehari-hari, ini berarti hasil AI tetap perlu dibaca secara kritis. Misalnya, analisis sentimen yang menunjukkan tren positif belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya jika konteks percakapan bersifat sarkastik atau ironis. Di sinilah peran manusia tetap krusial sebagai penjaga konteks dan akuntabilitas.
AI yang Mendukung Kerja Kontekstual
Kebutuhan akan agentic AI yang kontekstual semakin terasa ketika organisasi harus memantau percakapan publik yang kompleks dan bergerak cepat. Dalam situasi seperti ini, organisasi membutuhkan solusi AI yang tidak hanya otomatis, tetapi juga memahami dinamika lokal.
Pendekatan inilah yang diambil oleh Netray AI, yang menghadirkan berbagai produk berbasis AI, mulai dari media monitoring hingga AI translate, untuk membantu organisasi memahami percakapan publik dan informasi lintas bahasa secara lebih utuh. Dengan dukungan AI yang dirancang untuk konteks Indonesia, proses pemantauan dan analisis dapat berjalan lebih sistematis, sementara keputusan strategis tetap berada di tangan manusia.
Perubahan Keterampilan dalam Dunia Kerja
Seiring pergeseran peran AI, keterampilan manusia juga ikut berubah. Dunia kerja tidak lagi hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan membaca dan mengevaluasi output AI. Dalam keseharian, ini berarti memahami kapan hasil AI bisa dijadikan rujukan, dan kapan perlu ditinjau ulang dengan pertimbangan konteks.
Bagi pimpinan tim, keterampilan ini membantu menjembatani data dengan realitas organisasi. Bagi staf operasional, kemampuan bekerja berdampingan dengan AI menjadi bagian dari profesionalisme baru.
Penutup: Perubahan yang Terasa Dekat
Agentic AI bukan konsep futuristik yang jauh dari keseharian. Dampaknya sudah bisa dirasakan dalam laporan yang tersusun otomatis, pemantauan isu yang berjalan terus-menerus, hingga pengelolaan kerja yang lebih terstruktur. AI mengambil alih pekerjaan yang membutuhkan konsistensi dan skala, sementara manusia menjaga makna, konteks, dan arah.
Perubahan ini bukan tentang siapa yang tergantikan, melainkan tentang bagaimana peran dibagi ulang. Di sinilah agentic AI menjadi relevan, bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai bagian dari keseharian dunia kerja yang sedang bertransformasi.