HomeNetray UpdateLedakan Konten Video: Apakah Media Monitoring Berbasis Teks Masih Relevan?

Ledakan Konten Video: Apakah Media Monitoring Berbasis Teks Masih Relevan?

Published on

Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap percakapan publik mengalami perubahan besar. Jika sebelumnya opini dan isu banyak muncul dalam bentuk teks, mulai dari berita online, artikel blog, tweet, atau komentar forum, kini perhatian publik semakin bergeser ke konten video pendek. Platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts menjadi ruang utama tempat opini, kritik, hingga kampanye viral berkembang dengan cepat.

Perubahan ini memunculkan pertanyaan penting bagi organisasi, brand, maupun institusi publik: apakah media monitoring berbasis teks masih relevan di tengah ledakan konten video? Atau justru sudah waktunya ditinggalkan? Jawabannya tentu tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Karena relevansinya telah bergeser, maka cara menggunakannya pun perlu berevolusi. Artikel ini akan membahas sejauh mana media monitoring berbasis teks relevan saat ini di tengah ledakan konten video yang menggeser kebiasaan publik dalam menyebarkan opini.

Pergeseran Percakapan Publik: Dari Teks ke Video

Konten video pendek memiliki karakter yang sangat berbeda dibanding teks. Ia lebih emosional, cepat dicerna, dan mudah memicu reaksi. Satu video berdurasi 30 detik bisa memicu ribuan komentar, stitch, duet, atau re-upload lintas platform dalam hitungan jam.

Di TikTok, misalnya, banyak isu sensitif, mulai dari layanan publik, pengalaman konsumen, hingga opini politik, tidak selalu disampaikan dalam narasi panjang. Sebaliknya, pesan dibungkus lewat ekspresi wajah, nada suara, musik latar, dan teks singkat di layar. Hal serupa terjadi di Reels dan Shorts, di mana konteks visual sering kali lebih dominan dibanding kata-kata tertulis.

Organisasi yang hanya mengandalkan pemantauan teks akan berisiko kehilangan konteks awal munculnya isu. Banyak percakapan penting justru lahir dari video yang tidak memiliki narasi tertulis yang jelas, atau hanya dilengkapi caption singkat yang tidak mencerminkan isi sebenarnya. Ketika isu tersebut baru terdeteksi dalam bentuk artikel berita, thread, atau komentar panjang, persepsi publik sering kali sudah terbentuk dan menyebar luas. Dalam kondisi ini, media monitoring berbasis teks tidak sepenuhnya gagal, tetapi datang terlambat untuk memberikan peringatan dini dan pemahaman utuh tentang bagaimana sebuah isu bermula dan berkembang.

Tantangan Media Monitoring Berbasis Teks di Era Video

Media monitoring berbasis teks pada dasarnya masih kuat untuk banyak kebutuhan. Namun, di era dominasi video, ada beberapa keterbatasan yang perlu disadari:

1. Blind Spot pada Isu Visual

Banyak percakapan viral dimulai dari video tanpa caption yang jelas. Kritik, sindiran, atau pengalaman negatif bisa tersampaikan hanya lewat ekspresi dan visual. Sistem monitoring teks tidak akan menangkap ini jika tidak ada transkrip atau deskripsi yang relevan.

2. Makna di Balik Nada dan Gestur

Dalam video, makna tidak selalu literal. Sarkasme, humor, atau kemarahan sering terlihat dari intonasi suara dan mimik wajah. Ini sulit ditangkap oleh analisis teks murni, bahkan jika ada subtitle otomatis.

3. Kecepatan Viral Lebih Tinggi

Video pendek menyebar jauh lebih cepat dibanding artikel atau thread panjang. Ketika isu akhirnya muncul dalam bentuk teks (misalnya diberitakan media), situasi sering kali sudah berkembang jauh.

Lalu, Apakah Media Monitoring Berbasis Teks Masih Penting?

Jawabannya: ya, masih sangat relevan, tetapi tidak lagi cukup jika berdiri sendiri.

Media monitoring berbasis teks tetap memiliki peran krusial, antara lain:

  • Analisis narasi lanjutan: Setelah isu viral di video, media online, blog, dan komentar panjang biasanya menjadi ruang elaborasi.
  • Pelacakan sentimen terstruktur: Data teks lebih mudah dianalisis secara kuantitatif untuk melihat tren sentimen dari waktu ke waktu.
  • Kebutuhan pelaporan dan kebijakan: Banyak pengambil keputusan masih membutuhkan ringkasan berbasis teks yang rapi dan terdokumentasi.

Dengan kata lain, teks masih menjadi fondasi, tetapi video kini menjadi pemicu awal yang tidak boleh diabaikan.

Evolusi Media Monitoring: Dari Text-Only ke Multiformat

Perubahan perilaku audiens mendorong evolusi media monitoring ke arah yang lebih komprehensif. Monitoring modern tidak lagi bertanya “apa yang ditulis publik?”, melainkan “apa yang dibicarakan publik, dalam format apa pun?”

Pendekatan ini mencakup:

  • Transkripsi otomatis video dan audio, agar konten visual bisa dianalisis secara tekstual.
  • Konteks visual dan metadata, seperti hashtag, musik latar, dan engagement (like, share, komentar).
  • Korelasi lintas platform, untuk melihat bagaimana satu video memicu percakapan lanjutan di media lain.

Baca Juga: Masa Depan Monitoring Media: Dari Twitter Mention Hingga Podcast dan Voice

Implikasi bagi Brand, Pemerintah, dan Institusi Publik

Ledakan konten video bukan sekadar tren hiburan. Dampaknya nyata bagi pengelolaan reputasi dan pengambilan keputusan. Bagi brand, satu video ulasan negatif bisa lebih berpengaruh dibanding puluhan komentar teks. Bagi pemerintah dan institusi publik, kritik layanan sering kali pertama kali muncul di video warga, bukan di kanal pengaduan resmi. Sementara bagi organisasi dan korporasi, video internal yang bocor atau potongan pernyataan bisa memicu krisis reputasi jika tidak terdeteksi sejak dini. Dalam konteks ini, mengandalkan monitoring berbasis teks saja berarti datang terlambat ke percakapan.

Menuju Monitoring yang Lebih Kontekstual

Lalu bagaimana mengintegrasikannya dengan pemantauan video dan format lain.

Strategi yang lebih adaptif mencakup:

  • Menggunakan monitoring teks untuk analisis mendalam dan pelaporan.
  • Mengombinasikannya dengan pemantauan video untuk deteksi dini isu.
  • Memahami bahwa konteks lokal, termasuk bahasa, gaya bicara, dan budaya digital sangat memengaruhi makna konten video.

Pendekatan ini membantu organisasi tidak hanya “mendengar” percakapan publik, tetapi juga memahami arah dan dampaknya.

Kesimpulan

Ledakan konten video di TikTok, Reels, dan Shorts memang mengubah cara publik berbicara dan bereaksi. Namun, ini tidak otomatis membuat media monitoring berbasis teks usang. Teks masih menjadi tulang punggung analisis, hanya saja tidak lagi cukup jika berdiri sendiri.

Di era video-first, media monitoring perlu berevolusi menjadi lebih multimodal, mampu menangkap, menghubungkan, dan memaknai percakapan lintas format. Organisasi yang mampu beradaptasi dengan perubahan ini akan lebih siap menghadapi dinamika opini publik yang semakin cepat dan visual.

More like this

Agentic AI dan Pergeseran Peran AI dalam Dunia Kerja

Perbincangan tentang artificial intelligence dalam dunia kerja sering kali dimulai dari kekhawatiran: apakah AI...

AI Lokal vs AI Global: Tantangan Akurasi Analisis Data di Indonesia

Perkembangan artificial intelligence (AI) dalam beberapa tahun terakhir membawa perubahan besar dalam cara organisasi...

Prediksi Tren AI yang Akan Populer di Tahun 2026

Prediksi tren AI 2026 menjadi topik yang semakin relevan menjelang akhir tahun 2025. Dalam...